Internet Kill The Radio Star

Beberapa waktu yang lalu saya sempet nge-tweet kalo pengen nulis tentang radio. Radio itu dulu sempat jadi satu-satunya sumber hiburan saya berhubung tv pernah rusak dalam waktu yang cukup lama (dan gak ada duit buat ngebenerin, apalagi buat beli baru). Kalo lagi males numpang nonton di rumah tetangga maka pelariannya adalah dengerin radio. Buat saya ada satu hal yang tidak didapatkan ketika kita nonton di tv dibanding radio, yaitu kebebasan konten yang didapat lebih besar, spontanitas obrolan tanpa naskah, dan interaksi langsung dengan pirsawan bisa lebih dekat (eh, jadi tiga hal dong ya..). Namun, masa-masa bulan madu dengan radio seketika punah begitu muncul senjata pemusnah massal bernama internet. Saya sekarang jarang banget dengerin radio, karena kalo kejebak macet di jalan pasti bawaannya pengen buka internet di hape atau dengerin musik di mp3 player, bukan nyari-nyari frekuensi radio. Padahal banyak banget kenangan dari radio-radio yang dulu sering saya dengerin. Setelah susah payah mengumpulkan memori yang berserakan (dan juga waktu buat ngetik), saya mau sekadar berbagi aja beberapa stasiun radio (di Jakarta) yang dulu hampir setiap hari siarannya mampir di kuping saya.

 

TMI 

Sebelum i-radio muncul, radio dengan konten 100% musik Indonesia adalah TMI (‘Terminal Musik Indonesia’, lalu berubah jadi ‘Trend Musik Indonesia’). Memiliki frekuensi di 105.8 FM, radio ini dulunya bermarkas di Gedung GORO Pasar Minggu sebelum akhirnya tergusur karena kerusuhan ’98 menghanguskan tempat tersebut untuk kemudian lenyap tak berbekas dari peredaran. Gak begitu banyak yang saya inget tentang radio ini karena saya ngedengerinnya udah dari tahun2 terakhir SD sampe SMP, tapi TMI berjasa mengenalkan saya pada musik-musik keren Indonesia dekade 90-an, terutama Slank jaman album Lagi Sedih dan Tujuh, dan Dewa 19 album Terbaik-Terbaik dan Pandawa Lima. Oh ya, ‘warisan’ lain TMI ke i-radio bukan cuma dalam hal konten siaran, tapi juga Bens Leo dan acara review album baru mingguannya. :)

Radio SK

Satu-satunya radio humor dalam sejarah Indonesia, Radio SK 101.6 FM berkontribusi banyak pada pembentukan selera humor saya yang rada absurd. SK sendiri adalah singkatan dari “Suara Kejayaan”, namun terkadang sering juga diterjemahkan secara bebas sama penyiarnya menjadi “senyum dan ketawa”. Belakangan, kepanjangan SK resmi berubah menjadi Sentra Komedi, sebelum akhirnya bubar dan bermetamorfosis menjadi MD Radio (yang segmentasinya jadi berubah total). 

Saya merasa beruntung menjadi salah satu orang yang sempet menikmati acara Ngelaba ketika masih berbentuk radio show di SK. Disitu ekplorasi karakter bisa lebih gila-gilaan, Akri dengan Wan Abud-nya, Eko dengan karakter Mbah (with his famous quote: “similikitibalabala..”), dan Parto dengan logat ngapaknya. Ketika Ngelaba akhirnya diadopsi ke acara tipi oleh TPI, saya bisa dengan jumawa waktu itu bilang ke temen2: “di radio lebih gila” :D Tapi bukan cuma Ngelaba, radio show lain yang saya inget pernah dengerin itu Kompor Diamor (yes, with Komeng!), sama acaranya grup Sembako (anggotanya a.l.: Daus, Yadi, Murphy, Idan, dll.) yang saya lupa namanya. Selain slot khusus buat acara-acara humor kayak tadi, di SK juga ada acara-acara kayak radio ‘normal’, semacem talkshow pagi dan sore atau acara muterin lagu yang DJ-nya irit ngomong. Tapi yang bikin beda di SK itu semuaa dibikin ada nuansa humornya, bahkan untuk iklan, opening tune, dan bumper pun dibikin kocak.

Banyak banget komedian-komedian Indonesia sekarang yang tumbuh dan berkembang dari SK. Selain nama-nama di atas, ada juga Kiwil, Tukul Arwana, Ulfa Dwiyanti, Yasser Fikiri, Abdel, Temon, alm. Taufik Savalas, Bagito, dll (termasuk Warkop DKI yang sebenernya alumnus Prambors juga sempet disini). Rata-rata mereka berangkat dari menjadi penyiar di awal karirnya atau punya grup yang mengisi slot acara humor di SK. Hal itu sampe sekarang membuat saya masih suka beranggapan kalo seorang komedian yang bagus itu harus pernah jadi penyiar (dan hipotesa saya terbukti dengan banyaknya presenter yang punya sense of humour bagus rata-rata adalah eks-penyiar). Tapi gak semua jebolan SK jadi komedian juga sih, ada Nugie (waktu masih gondrong), Alfito Deannova (yeah, that ex-SCTV-then-tvOne guy! Believe it or not, he’s once an SKawan), atau Meea Kusuma (eks VJ MTV). Baru-baru ini saya juga nemu thread di Kaskus yang ngebahas tentang SK yang lebih dari cukup untuk mengobati kerinduan saya, atau mungkin juga bisa jadi referensi bagaimana kenangan tentang alm. Radio SK begitu melekat di hati banyak brur and zus seantero Jakarta Bog. ;’)

Prambors

Ketika saya mulai dengerin Prambors, waktu itu nama resminya masih “102.3 FMANIA Prambors Rasisonia” (Prambanan Mendut Borobudur dan Sekitarnya – Radio Siaran Sosial Niaga). Belakangan cuma nama Prambors yang diambil dan studionya pun berpindah dari Jl. Mendut No. 15, Menteng ke Ratu Plaza. Prambors yang saya kenal dulu adalah undisputable champion for radio with youth segment in Jakarta. Sama sekali gak ada saingan. Memang udah ada Mustang, tapi kayaknya gregetnya kurang. Pokoknya bener-bener jadi barometer kegaulan ibukota banget deh.

Perkenalan pertama saya dengan Prambors itu pas acara morning show-nya yang dibawain sama Venna Annisa (yang kemudian terkenal sebagai host reality show Katakan Cinta) dan Ariono Arifin (yang kemudian tidak terkenal sama sekali :p). Acara favorit saya di Prambors dulu (disclaimer: ini dulu banget ya, saya dari kecil emang udah sering dengerin radio kok hehehe..) adalah Prambors Wow Mania, semacam afternoon show gitu.Yang bikin spesial itu penyiarnya yaitu Irfan Ihsan (sekarang kerja di VoA kayaknya) dan Arlingga Panega atau Angga (one of my favorite broadcaster ’till now) yang kewarasannya patut dipertanyakan. Saking hebohnya acara tadi, sampe ANTEVE (dulu ejaannya masih begini) mengadopsinya ke layar kaca, namun gak bertahan lama (mungkin karena orang2 rada gak tahan juga ya ngeliat mukanya).

Nah dari situlah saya mulai rutin ngedengerin Prambors. Yang masih saya inget wadyabala-wadyabala jaman itu tuh Fla Priscilla (ni orang dari dulu udah sekseh banget suaranya!), Asry Suharman (pernah jadi presenter Planet Football), Becky Tumewu, Rally Marina, Fauzan Zaman, sama Ferdi Hasan (yang lain belom keinget). Melompat ke era awal 2000-an waktu ada Dagienkz, Desta, Warman, Sesa, Imam Darto, dll. Acara Putuss (Ayo Main yang Bagus, Plak!)-nya Dagienkz-Desta dulu sempet jadi morning show andalan saya, namun minat saya terhadap Prambors mulai menurun drastis ketika muncul acara paling ganggu sedunia bernama DJ Kamu.

DJ Kamu (DJ Kawula Muda) adalah semacam acara battle buat anak-anak SMA waktu itu dengan motto “do not underestimate the power of putih abu-abu” (kalo gak salah SCTV pernah mengangkat acara ini ke layar kaca dengan nama PoPA which is “Power of Putih Abu-abu”). Di acara ini yang jadi penyiar juga anak2 SMA itu sendiri, didampingi oleh satu wadyabala. Awalnya semuanya berjalan biasa-biasa aja, bahkan menarik. Namun, lama-lama saya ngerasa acara ini semakin menjadi ajang show off buat kalangan elite geng populer SMA papan atas Jakarta (dan saya sebagai anak SMA medioker pinggiran Jakarta ceritanya merasa muak dan termarginalisasi). Mulailah muncul obrolan-obrolan gak penting seputar apa yg terjadi di sekolah mereka, mulai dari pensi, prom nite, gosip guru, temen2 sepergaulan, dll.; gaya hidup kayak hape (waktu itu masih barang langka), fesyen, musik R&B atau jazz (kalo gak suka ini berarti lo sampah, bukan bagian dari ‘kalangan yang terpandang’), laporan tentang heng-ot di PIM, Citos (dulu baru buka), PS, dll., dan tidak lupa semuanya dibumbui dengan celotehan2 bahasa enggres biar dibilang gaul dan keren. Seinget saya, dari sini juga berawal gaya ngomong anak SMA yang kayak makan gorengan kepa
nasan (yang ghemana gethu loch, aghak-aghak gangghu bangget tawgaksihloch..) dan mulai menjamurnya akhiran kalimat “gitu loh” yang over-used. Saya juga gak tau pasti, tapi kayaknya setelah adanya acara ini kok ya jadi makin banyak penyiar2 cewek Prambors yang suaranya serek-serek macho gak enak gitu (mungkin karena waktu itu dianggep cool kali yak?). Seiring dengan semakin menguatnya image Prambors sebagai pusat indikator kegaulan kalangan elite muda-mudi Jakarta, saya pun semakin merasa tidak satu ideologi lagi (halah!) dan akhirnya menemukan alternatif segar di MTV Sky.

MTV On Sky/MTV Sky/Trax FM

MTV On Sky yang berdiri pada awal 2000-an, menempati frekuensi 101.6 FM yang sebelumnya ditempati Radio SK, sempat berganti nama menjadi MTV Sky dan akhirnya menjadi Trax FM sampe sekarang, cuma membutuhkan waktu yang singkat untuk menjadi alternatif utama buat warga muda Jakarta yang muak dengan kemapanan Prambors yang seakan tanpa saingan berarti. Saya sih ngerasa MTV Sky sengaja mengambil posisi yang berbeda dengan Prambors dengan mengambil segmentasi “kalangan yang tersisihkan”. Kesan pertama yang saya dapet dari MTV Sky adalah less jaim and better music. Beda sama Prambors yang airplay-nya cuma boleh diisi lagu-lagu yg masuk dalam jajaran Top 40 mereka doang (kecuali pas acara request), MTV Sky lebih bebas dalam hal pemutaran lagu. Penyiar-penyiar (or they called it: DJ-DJ) Sky juga gak berusaha memposisikan dirinya sebagai “the gaul-est people in town”. Pokoknya bener-bener jadi oase dalam dahaga jagad pe-radio-an Jakarta deh.. 

Saya masih rada-rada inget generasi pertama penyiar MTV Sky: Morning Zone diisi Ata (host Idol) sama Indra Bekti, MTV Club (acara malem2) sama Nanda-Arie Untung-Kemal, siang2 bisa Amira (the one with the sexiest voice but then involved in a drugs abuse case and got kicked out), Karina, Cindy Fatika Sari, Tengku Firmansyah, sama nama2 lain yang ternyata saya lupa.. :p Tapi cuma dua acara MTV Sky yang bener2 membekas di pikiran saya, yaitu The Kampretz Show sama Skuldesak.

The Kampretz Show adalah hasil metamorfosis dari MTV Club, acara late night-nya MTV Sky. Waktu itu Arie Untung sebagai salah satu penyiar Club ngajak satu orang temennya, yaitu Steny Agustaf, dan Steny pun ngajak temennya juga bernama Jodi buat siaran bareng dan akhirnya keterusan. Waktu itu yang udah sering masup tipi cuma si Arie, belum ada bayangan tampangnya Steny sama Jodi kayak apaan (bahkan awalnya saya pikir Jodi itu cowok botak yang temennya Edwin gara-gara suaranya rada mirip). Acaranya mengudara Senin-Jumat 22.00-24.00 tapi sering juga kebablasan sampe jam 1 dini hari. Ini adalah acara ngakak non-stop dengan lelucon absurd dan diselingi beberapa guys talk dan obrolan via telepon sama pendengar. Di acara ini juga si Steny mulai terkenal gara-gara suara khasnya (hingga akhirnya jadi raja voice-over dunia periklanan Indonesia) plus bakat komedinya yang gokil. Saya yakin banget kata-kata kayak “Cape deh..”, “Ada’ lagi…”, “…, Malih!” itu populer dari sini karena mereka terlebih dulu menggunakannya sebelum kata2 itu terkenal di khalayak. Teman begadang yang gak terlupakan deh The Kampretz Show ini.

Kalo Skuldesak sendiri itu acara yang mirip-mirip DJ Kamu, bahkan bisa dibilang konsepnya menjiplak. Bedanya terletak pada duet penyiarnya: Sammy dan Ditta yang super kacrut, yang kemudian menyeret anak-anak SMA yang hadir di Skuldesak untuk juga berkelakuan kacrut. Jadi waktu itu ada dua kubu di kalangan anak SMA ibukota: pendengar DJ Kamu atau pendengar Skuldesak. Kalo yang pendengar DJ Kamu pasti bilang Skuldesak itu aneh, katro, norak, dan bisanya cuman ngikutin doang, sedangkan kalo pendengar Skuldesak biasanya bilang DJ Kamu itu sok asik, sok keren, dan terlalu artifisial. Ditta itu dulunya produser Cutting Edge, acara di MTV Sky yang muterin lagu-lagu non-mainstream + indie (acara paling keren di Sky!), sedangkan Sammy itu sekarang lebih dikenal sebagai basis band Seringai. Duo penyebar kekacrutan itu juga ditemani tokoh rekaan kayak Dorahellmon (sempat menelurkan beberapa lagu parodi yang kerap membuat istighfar), terkadang juga bersandiwara layaknya Rhoma Irama & Richa Rachiem, dan sempat berkolaborasi ngebawain beberapa lagu secara akustikan dimana salah satu yang paling legendaris adalah waktu nyanyiin Said Sadly-nya James Iha & Nina Gordon. Setelah Skuldesak tamat riwayatnya, mereka dipindah ke Morning Zone, hingga akhirnya berhenti siaran. Saya waktu itu berkesempatan mendengar siaran terakhir mereka di Trax FM, bener2 menandai the end of an era dan rasanya juga kayak ada yang ilang.. Sekarang mereka siaran di Gen FM tapi kayaknya gak setiap hari (dan jarang dengerin juga).

Hard Rock FM

Saya masih SMP waktu ngedengerin Selimut (Seloroh Indra Mutia), acara late night show mingguan yang rada-rada vulgar oleh alm. Indra Safera dan Mutia Kasim, dan dari situ saya tau kalo pas agak gedean nanti pasti radio yang saya dengerin pasti gak jauh-jauh dari Hard Rock FM.  

Ternyata benar, menginjak SMA sampe bangku kuliah salah satu radio yang sering (tapi tidak rutin) saya denger ya HRFM. Dulu bentuk fisik radio saya itu yang sistem nyari channel-nya masih diputer2, jadi paling gampang nemuin HRFM karena lokasinya terletak di paling pojok kiri: 87.6 FM. Acara yang saya dengerin juga rata-rata cuma GMHR Show, mulai dari jamannya Indy-Farhan sampe Steny-Pandji, sama Drive and Jive doang, mulai dari Hilbram Dunar-Melissa Karim sampe Lucy Wiryono-Melaney Ricardo. GMHR bareng Steny-Pandji dan DnJ generasi Lucy-Melaney adalah yang paling berkesan karena (lagi-lagi) selalu sukses bikin saya ngakak. Oiya, sempet ada acara mingguan di HRFM namanya Tikus (Tika, Udjo, Yossi) yang selalu saya dengerin. I’m a sucker for funny radio shows.

Beberapa nama beken yang pernah menghiasi daftar penyiar HRFM itu antara lain Erwin Parengkuan, Uli Herdinansyah, Indra Herlambang, Sarah Sechan, Tina Zakaria, Adi Nugroho, dan Bayu Oktara. Oh, disini penyiar cewek yang suaranya paling sekseh itu Lena Tupan. Kata orang sih suara di radio biasanya berbanding terbalik dengan muka asli, tapi saya belom pernah liat mukanya Lena (biarkan fantasi itu abadi hehehe..). Yang saya juga kenang dari Hard Rock adalah selalu nyiarin live seremoni Oscar dan Grammy tiap tahunnya. Sebelum live internet streaming (dan kini live tweet)  jadi hal yang umum, hal ini dulu lumayan banget buat tau update terbaru.

Mustang 

Mustang dulunya ada di 100.5 FM sebelum pindah ke 88 FM. Dari dulu udah bermain di segmentasi radio remaja, tapi selalu berada di bawah bayang-bayang Prambors. Yang paling mencolok dari radio ini adalah ‘kebijakan’ mereka untuk menambahkan nama belakang penyiarnya dengan nama2 yang kadang membuat jijay, misalnya kayak “Udin Storm”, “Ujang Fly”, “Sulastri Blossom”, dsb. Mustang terkenal dengan acara rikuwesnya (yang entah kenapa begitu terkenal karena sebenarnya ini hal yang umum di radio-radio lain), acara khusus musik punk dan ska: PunkSkaSila, daaan… acara kisah horor malam Jum’at. Dulu emang hampir setiap radio punya acara sejenis pas malam Jum’at, tapi buat saya yang paling pol nuansa seremnya ya di Mustang ini. Mungkin lebih karena pemilihan backsound yang pas, suara penyiarnya yang mendukung, dan cerita2 dari pendengarnya yang mayoritas emang nyeremin.

Satu lagi yang saya suka dari Mustang adalah acara review film-nya. Penyiarnya bener2 nguasain bahan dan referensi, tipikal movie buffs sejati. Sayangnya saya lupa namanya siapa, cuma kalo gak salah yg satu namanya Icul (kebalikan dari Lucy) dan disiarinnya setiap rabu malem. Kalo tentang penyiarnya gak begitu banyak yang terkenal sih, palingan Rico Ceper, Bedu, Deasy Noviyanti, Arie Untung (sebelum jadi VJ MTV dia di sini), sama Novita Angie. 

Uncle JC’s English Show

Nah kalo yang ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Kalo yang di atas tadi nama-nama radio yang sering sa
ya dengerin, yang kali ini adalah nama program radio yang bertahan selama 12 tahun (!) dan nomaden dari satu radio ke radio yang lain (dan saya selalu setia ngedengerin), mulai dari MS Tri, SK, Smart FM, sampe KIS. Namanya juga berubah-ubah, di MS Tri namanya masih The English Show, pas pindah ke SK jadi Travieska, dan di Smart FM sama KIS berubah jadi Rush Hour Show.

Format acaranya sebenernya sederhana: talkshow dalam bahasa Inggris yang digawangi oleh seorang bule karatan dari Florida bernama JC. Jadi setiap awal siaran JC bakal melontarkan sebuah topik, kemudian mengundang pendengar untuk turut beropini, tentunya dalam bahasa Inggris, dan proses interaksi penyiar-pendengar itulah yang bakal membuat obrolan melebar kemana-mana (termasuk salah satunya yang sering terjadi adalah mengubah tema acara menjadi “Mocking JC Show”). Awalnya (ketika masih di MS Tri a.k.a. Media Suara Trisakti yang notabene sebuah radio kampus) emang acara ini ditujukan lebih sebagai media untuk belajar bahasa Inggris, terutama dalam hal listening dan speaking. Yang membuat berbeda adalah kemampuan JC sebagai pembawa acara utama dalam menanggapi suatu isu dari sudut pandang ekspatriat yang tinggal di Indonesia dengan karakter old grumpy man-nya. JC sendiri didampingi oleh beberapa ‘co-announcer’, orang2 Indonesia yang juga talk in English dengan karakter rekaan masing-masing, yang membuat acara jadi lebih berwarna (dan juga lucu). Setelah pindah ke radio-radio lain, acara ini lebih jadi ajang uji ilmu buat orang-orang yang ngerasa bisa bahasa Inggris. Acara ini berjasa begitu besar buat saya dalam hal mengembangkan kemampuan bahasa Inggris yang tak seberapa, karena gak banyak acara radio di Jakarta yang dibawakan full dalam bahasa Inggris namun mengambil isu-isu lokal. Saya dengerin dari SMP dan siaran terakhir mereka terjadi tahun 2010 lalu. Sad end.

Sebenernya ada beberapa acara radio lain yang paling gak sempet saya dengerin secara rutin, kayak Afternoon Show-nya Indika FM (rada-rada maho penyiarnya tapi emang lucu acaranya), acara rikuwes lagu2 Indonesia di Pop FM Depok (merekalah yang berjasa mempopulerkan lagu-lagu Kangen Band di album “Antara Aku, Kau dan Dia” pada diri saya!), Varia Nusantara RRI jam 9 pagi (dulu setiap radio wajib relay), Radio Muara dengan jingle dangdut legendaris-nya itu (“Hey, apa kabar kamu semuanya.. Berjumpa lagi lewat udara…”), ceramah KH Kosim Nurseha di RKM Radio Kayumanis (jangan lupa “syalalalalala-nya..”), Tadarus qur’an via telepon di FMuslim Attahiriyah (ini beneran ada loh.. Waktu masih sering ngaji :p), BBC London di Elshinta jam 8 malem, Radio Utan Kayu 68H (or they said: “Radio JIL”), acara-acara khusus selama bulan puasa kayak KonKan + BCR-nya Prambors, dan beberapa lagi yang saya udah lupa, tapi gak saya jelasin panjang lebar disini karena gak begitu signifikan. Sekarang paling banter saya dengerin radio di Gen FM atau Jak FM yang lebih banyak lagu daripada suara penyiarnya, suatu hal yang aneh karena dulu saya justru nyari radio yang banyak ngobrol-ngobrolnya ketimbang muterin musik. Time has change, karena obrolan2 yang saya minati itu kini telah pindah medium ke timeline Twitter saya. Internet (does) kill the radio star.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s