Curva Sud Milano On Derby Day

Malam agung itu segera tiba. Malam derby della Madonnina. Mau menang atau kalah (tapi pastinya maunya menang sih), derby selalu menarik untuk ditunggu. Buat saya, alasan menunggu-nunggu derby bertambah satu: menunggu coreo apa lagi yang bakal ditampilin oleh Curva Sud.

 

Curva Sud? Jadi begini, di Italia, dan hampir seluruh negara sepakbola (yang sudah beradab) lainnya, biasanya pendukung fanatik/garis keras suatu klub itu dilokalisir di suatu sektor tribun tertentu untuk mencegah gesekan dengan pendukung yang lebih ‘sopan’, apalagi dengan pendukung tim lawan. Mungkin pernah denger Kop stand di Anfield atau Stretford End stand di Old Trafford, nah semacam itulah. Di Italia, sektor tersebut biasa disebut “Curva”. Lazimnya,curva itu terletak di sisi utara dan selatan stadion (soalnya jarang denger ada “Curva Est” sama “Curva Covest”). Biasanya kalo stadion itu hanya ditempati satu klub, maka curva seberang diperuntukkan untuk suporter tim tamu. Tapi, kalo kasusnya kayak di Milano, dimana satu stadion dipake buat dua klub, kedua curva udah dijatahin buat masing-masing klub (dan kayaknya suatu dosa tak termaafkan jika sampe ada yang ‘salah tempat’): Curva Nord buat FC Internazionale *pret* & Curva Sud buat *uhuk* AC Milan. Kalo kita nonton di tipi, Curva Nord itu di sebelah kiri layar dan Curva Sud itu di sebelah kanannya.

 

Coreo itu sendiri singkatan dari coreography (agak males nulis padanan bahasa Indonesianya karena terlalu identik dengan AFI dan Ari Tulang-nya :p), pada dasarnya sama kayak display of devotion terhadap klub dalam bentuk gambar raksasa yang tersusun dari banyak bendera/gambar kecil yang dilakukan oleh banyak orang dalam skala masif. Kalo pernah liat parade di Korea Utara yang nampilin gambar Kim Jong Il dan Kim Il Sung, ya kayak gitulah (rada susah neranginnya). Nah, coreo itu sendiri gak muncul dalam setiap pertandingan (konon karena untuk satu coreo biayanya cukup mahal), tapi hanya muncul pada aat-saat tertentu. Kalo konteksnya Milan, biasanya cuma nongol (yang udah pasti) dua kali dalam satu musim: lawan Juventus & pas derby. Kalo ada pertandingan Liga Champions biasanya juga diadain coreo kalo lawannya tergolong tim elit (kayak Madrid, Muenchen, Man Utd, dll.), atau begitu udah masuk fase knock-out. Tapi coreo Curva Sud ketika derby selalu paling menarik karena (sangat) sering isinya ledek-ledekan antara dua klub yang sebenarnya bersaudara ini. :)

 

Coreo waktu derby yang paling saya inget itu pas nampilin 6 bola yang dipukul oleh raket tenis simbolisasi kekalahan Inter 0-6 (satu set dalam pertandingan tenis) dari Milan di musim 2000-2001. Ingetnya lebih karena nonton langsung di tv sih dan hasil akhirnya juga lumayan: Milan menang 4-2 di bawah asuhan Fatih Terim. Tapi itu bukan favorit saya. Ada satu coreo derby, tapi gak tau pas musim kapan tepatnya, yang memparodikan lukisan “The Scream” karya Edvard Munch. Di bawahnya ada tulisan “Interista diventi pazzo” (Inter fan gone mad). Selain menyindir rasa frustasi Interista yang (waktu itu) udah belasan tahun tanpa gelar berarti jika dibandingkan dengan (sekali lagi, waktu itu) kegemilangan tetangga sebelah, teks tadi sebenarnya juga meledek lagu kebangsaan/slogan Inter sendiri: “Pazza Inter (amala)”. Now that’s my favorite one.

Coreografia_13

Sebenernya ada satu lagi yang nampilin gambar Homer Simpson nonton tipi (musim 2007/2008, tepat cento anni Inter/1 abad Inter), dengan teks yang kurang lebih artinya “100 tahun sejarahmu, namun tetap dengan hasil yang sama”, menyindir kegagalan Inter masuk final Liga Champions dan Interista lagi-lagi cuma jadi penonton (padahal udah ditargetin juara dari awal musim).

Interhomer

 

Meskipun banyak yang bilang coreo Curva Sud mulai berkurang kreativitasnya (terutama gaya nyinyir-nya) setelah Fossa Dei Leoni, kelompok tifosi Milan yang pertama didirikan, bubar (dan saya pun juga merasa demikian), tapi gak ada salahnya kalo melongok kembali beberapa coreo yang ditampilkan waktu malam derby. May the best team win next sunday.

 

PS: Saya gak pernah merhatiin konten koreo Curva Nord, tapi kebanyakan selalu berupa coat of arm kota Milano yang mirip St. George Cross itu dengan sedikit nuansa biru-hitam. Paling banter mereka majang tulisan “zero titoli” (dan itu sudah cukup keras) *ups* :)) 

 

Coreografia_19Coreografia_14Intermerda6lyInter_milan_2010Coreografia_26Coreografia_9Milan_inter_2010

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s