Catatan Pinggir Goenawan Muhammad di Twitter: Bung Karno

Salah satu hal yang paling saya suka dari Twitter adalah saya bisa mendapat ilmu dari para pakar dan ahli di bidangnya dengan gratis. Asalkan mem-follow orang yang sesuai, pengetahuan dan wawasan akan bertambah setiap harinya karena orang-orang hebat ini dengan sukarela membagi isi otak maupun pengalamannya kepada kita. Misalnya yang sering saya perhatikan adalah @ulil dengan ‘kuliah’ Islam liberal-nya, @ivanlanin tentang bahasa Indonesia, @jsliberal tentang sepakbola sebagai way of life, bukan hanya sekadar olahraga, atau @hotradero tentang… hampir semua hal!

Biasanya mereka membuat tweet berseri tentang bidang-bidang yang mereka kuasai atau paling tidak yang mereka ketahui lebih daripada orang awam. Kelemahannya memang terkadang kita tidak bisa mengikuti seluruh rangkaian cicitan itu karena terserak di dalam timeline, bertumpang tindih dengan cicitan-cicitan dari orang-orang lain yang kita follow. Terkadang memang ada yang merangkumnya dalam satu tulisan di blog, tapi tidak jarang informasi-informasi penambah wawasan ini hilang begitu saja tenggelam ke dasar timeline karena tidak ada yang mendokumentasikan. 

Hari ini, wartawan senior Goenawan Muhammad yang memiliki ID @gm_gm di Twitter menyajikan cicitan berseri tentang Sang Putra Fajar: Bung Karno. Semua cicitan yang bercerita tentang Soekarno diberikan penanda #BK yang jika di-klik akan terlihat komentar maupun tanggapan atas cicitan-cicitan tersebut. Karena kebetulan beliau adalah tokoh nasional idola saya setelah Bung Hatta, maka saya berinisiatif mengumpulkan serangkaian cicitan Pak @gm_gm tadi ke dalam satu tulisan yang bisa dilongok kembali jika suatu saat dibutuhkan.

 

Sebelum saya mulai bicara soal Bung Karno, perlu saya kemukakan: saya bukan sejarawan. Ini hanya kesan, analisa dan renungan saya. #BK 

Sejak manipulasi Orde Baru thd sejarah, dan perlakuannya thd Bung Karno, tokoh ini lebih jadi legenda ketimbang pelaku sejarah.#BK

Masyarakat cenderung me-legenda-kan tokoh2 yg digelapkan rezim yg dibenci. Apalagi Bung Karno #BK

Sbg legenda, Bung Karno sempurna. Sbg pelaku sejarah, ia mengubah keadaan, tapi ia juga dikondisikan oleh keadaan #BK

Bung Karno, yg anggap kaum marhaen sbg sokoguru revolusi, tak berasal dr keluarga petani miskin. Ah, Marx juga bukan anak buruh. #BK

Ayah Bung Karno seorang priyayi, kepala sekolah dgn gelar “raden”. Ibunya wanita Bali. Saya tak banyak tahu ttg tokoh ini. #BK

Zaman ketika Bung Karno membentuk pikirannya, di awal abad ke-20, Marxisme sangat berpengaruh. #BK

Hampir tak ada yg tak tergerak oleh Marxisme. Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, apalagi yg komunis spt Tan Malaka #BK

Kenapa Marxisme memukau mereka? (1) punya semangat keadilan yg kuat, (2) punya klaim “ilmiah” yg menjanjikan pembebasan manusia #BK

Marxisme, bagi generasi Bung Karno, bisa jelaskan keadaan kolonialisme dgn analisa keadaan sosial ekonomi. Marxisme tak bicara takdir. #BK

Marxisme juga bisa melihat kondisi kolonial bangsa Indonesia yg dijajah bukan sesuatu yg unik. India, Cina, dll. mengalami yg sama.#BK

Pengaruh Marxisme pd Bung Karno kadang terasa masih mentah, spt dlm tulisannya ttg “Marhaen dan Proletar” tahun 1933. Tapi bisa tdk.

Dgn memilih kaum “marhaen” sbg poros revolusi, Bung Karno berbeda dari kaum Marxis yg melihat kaum buruh sbg pelopor. #BK

Kaum “marhaen” adalah tani miskin tapi yg punya alat produksi sedikit, spt pacuk + sepetak tanah. Buruh tak punya alat produksi.#BK

Menurut cerita Bung Karno, istilah “marhaen” diambil dari nama seotrang tani melarat yg ditemuinya di Jawa Barat.&nbsp
;#BK

Dgn meletakkan “marhaen” (bukan buruh) di tempat sentral, Bung Karno bertolak dari kondisi Indonesia: di sini, kaum buruh minoritas. #BK

Di masa Or-Ba, seorang ideolog militer menuduh Marhaenisme sbg cabang Marxisme yg harus ikut dilarang. Ada percobaan membubarkan PNI. #BK

Sang ideolog bahkan menulis di Harian Angkatan Bersenjata, “Marhaen” itu akronim Marx-Ha-egel-Engels. Hahaha. Ngawur abis!

Orang2 PNI sendiri, (juga PDI-P) saking takutnya, ada yg mencoba memungkiri pengaruh Marxisme dlm pemikiran Bung Karno #BK.

Marxisme membuat Bung Karno dll. melihat kolonialisme sbg soal kelas, (kapitalis yg jadi imperialis) bukan soal ras. #BK

Maka, nasionalisme Indonesia, krn Marxisme, tak bersifat rasial. Bung Karno dll tak pernah melihat ini perlawanan thd “kulit putih”.#BK

Maka nasionalisme ini juga punya semangat internasionalisme, krn spt disebut tadi, Indonesia tak dilihat sbg kasus yg unik dan terpisah. #BK

Selain (dan bersama) Marxisme pengaruh pd pikiran Bung Karno datang dari api “kemajuan”. Kata lain dari “modernisasi”. #BK

Dlm hal itu, Bung Karno segaris dgn S.T. Alisyahbana, Pramudya, Tan Malaka dan generasi intelektuil “Gelanggang”. #BK

Bung Karno anjurkan orang Indonesia tinggalkan “oude-cultuur maniak”, para pecandu kebudayaan lama, yg hanya rindukan candi dll. #BK

Dalam semangat kemajuan pula, Bung Karno menafsirkan Islam. Spt disebut @ulil, itu tampak dlm “Surat-Surat Islam dari Endeh”#BK

Saya kira @ulil yg lebih mampu jelaskan pandangan Bung Karno ttg Islam. Silakan, Ulil. Maaf, utk itu saya nggak akan traktir donat.#BK

Ah, saya teringat Endeh- tempat buangan Bung Karno terakhir. Ada rumah + monumennya. Wapres Budiono berencana perbaiki petilasan itu. #BK

Tetapi, seperti hampir semua pemikir yg juga aktivis politik, seperti umumnya orang segenerasinya, ide2 Bung Karno tak utuh benar.#BK

Dlm pemikiran Bung Karno, kata “revolusi” berulang ditemukan. Tapi tak jelas: bgm “revolusi” bisa ada tanpa kekuatan bersenjata.#BK

Salah satu kekurangan dlm pemikiran Bung Karno adalah tak adanya bahasan ttg peran militer, dan hubungan militer dgn sipil.#BK

Bung Karno bukan Mao yg percaya, “kekuasaan datang dari laras senjata”. Maka di Cina, Partai (Komunis) berposisi kendalikan tentara. #BK

Ketika di Indonesia militer merasa sederajat sipil, tak ada pegangan ideologis + kekuatan politik yg membatalkannya. Bung Karno gagap. #BK

Bung Karno melihat “revo
lusi” sbg gerakan massa saja, lewat jalan politik. yg normal. Tapi tak lihat kemungkinan jalan itu ditutup Bld.#BK

Saya tak akan heran jika orang spt Tan Malaka (seorang Marxis-Leninis) akan melihat Bung Karno tak cukup “revolusioner”. #BK

Bung Karno akan dinilai sbg tetap “priyayi”. Coba saja lihat caranya memberi nama anak: “Sukarnoputra”, “Sukarnoputri”. Berbau ningrat. #BK

Kritik thd Bung Karno sbg pejuang yg lunak juga pernah datang dari Bung Hatta di tahun 1933, dlm tulisan “Tragedie Soekarno”#BK

Sewaktu di penjara Sukamiskin, Bung Karno kirim surat ke Jaksa Agung kolonial, menyesal atas kegiatan politiknya. Hatta mengecam ini. #BK

Bung Karno dan Bung Hatta memang sering beda sikap. Omong2, akan ada kuliah saya ttg pemikiran Hatta 21 Juni di Unpar, Bdg.#BK

Saya minta izin jeda dulu. Nanti malam saya sambung. Sekarang#TolakDanaAspirasi.

Ada komentar dan pertanyaan yg sebaiknya saya respons sekarang sebelum “kul-twit” ttg Bung karno mulai. #BK

Nah, bagian ini saya mulai dgn pernyataan: Saya blm pernah ketemu Bung Karno. Saya cuma sekali ketemu Bung Hatta. Dan ini tidak aneh. #BK

Pertama kali saya lihat Bung Karno: saya, murid SMP, ikut nyanyi dlm aubade baginyadi halaman karesidenan Pekalongan. Lupa tahunnya. #BK

Kedua kali (dan terakhir) waktu Bung Karno pidato di kampus UI di Salemba, di ulang tahun UI. Mungkin 1963. #BK

Waktu ikut aubade itu, saya lihat Bung Karno dr jauh. Terpesona. Saya ingat pidatonya: para pemuda hrs berani “nyebal” dari jalan biasa. #BK

Bung Karno memang kharismatis. Kemudian saya tahu dr cerita dan dlm dokumenter: dia sosok yg hangat, tak kaku, pe-de banget,#BK

Dlm sebuah film dokumenter, saya lihat Bung Karno mengambil rokok dri saku seroang wartawan di dekatnya, lalu merokok. Akrab.#BK

Seorang editor TIME yg dulu di Jkt cerita: di Istana, Bung Karno jalan spt mau bikin statemen. Waktu diikuti, ternyata cuma pipis, #BK

Seorang wartawan + pengarang AS terkenal pernah minta audiensi dgn Bung Karno. Waktu nunggu, tiba2 dia dpt sepucuk kertas. #BK

Di kertas itu ada tulisan Bung Karno: kutipan dari buku sang wartawan ttg Gandhi. Dia terkesima: Bung Karno kok ngat itu luar kepala! #BK

Bung Karno dan buku: dia datang dari generasi yg mencari dan membaca. Di Istana Bogor bagian dr pustaka itu masih utuh. #BK

Ada yg mengatakan, Bung Karno “mewakili Jawa”, Hatta “MInang”. Saya tak percaya itu. Bung Karno itu pribadi di luar stereotip. #BK

Bung Karno, yg suka dandan, membuat “gaya” pakaian sendiri. Jas dgn empat saku. Pici. Lalu sederet tanda jasa. Tongkat komando.#BK

Jika dilihat sekarang, pakaian Bung Karno nyentrik banget. Saya tak bayangkan SBY mau berpakaian begitu. #BK

Bhs Indonesia Bung Karno dlm tulisan2 di tahun 1930-an sangat dipengaruhi apa yg suka disebut “Melayu pasar” atau “Melayu Tionghoa”. #BK

Bung Karno misalnya, mengatakan “saya punya jiwa”. Maksudnya “jiwa saya”. Bhs asing, terutama Bld, berserak dlm pidato + tulisannya. #BK

Tapi itulah gaya bhs Bung Karno. Dan meski rakyat tak paham apa itu “vivere percoloso”, “l’exploitation de l’homme”, ia tetap memukau. #BK

Tambahan ttg bahasa + Bung Karno. Bhs Belandanya sempurna, (dia berpikir dlm bahasa itu). Bhs Sundanya ok. Bhs Jawanya? Kasar. #BK

Bhs Inggrisnya ok. Bhs Prancisnya entah. Ignas Kleden pernah dengar rekaman Bung Karno pidato di Univ. Heidelberg: bhs Jermannya keren. #BK

Kekuatan Bung Karno dlm kata. Ia orator kelas satu dia. Paham atau tak paham, rakyat terpukau. He is the medium. He is the message. #BK

Ia menyukai kerumunan. Di sana ia, dgn tubuh tinggi, paras tampan, suara bariton, akan menonjol. Di sini ia berbeda dari Hatta. #BK

Saya pernah wawancara Bung Hatta, ketika ia sudah lanjut usia. Seorang lurus hati + serius yg tak pandai bicara dan, maaf, membosankan. #BK

Bung Karno suka gerakan massa, ramai dan rukun. Bung Hatta suka gerakan yg dipelopori kader terlatih.

Agaknya kecenderungan itu berpengaruh thd pandangan kedua tokoh itu ttg demokrasi dll. #BK

Saya berhenti sebentar ya. Ada telepon masuk — bukan tentang Bung Karno. Nanti saya bicara soal Bung Karno dan demokrasi#BK

Gandrung akan persatuan nasional dan gerakan massa, Bung Karno melihat demokrasi bukan sebuah bangunan yg dasarnya individu. #BK

Sebuah bangsa bg Bung Karno adalah sebuah kesatuan yg kompak dlm keluarga. KIta semua adalah “leden van de familie” anggota keluarga). #BK

Bung Karno menolak dimasukkanya hak-hak warga dan hak manusia dlm konsitusi, spt tercatat dlm rapat persiapan kemerdekaan, Juli 1945. #BK

Bagi Bung Karno, hak-hak asasi manusia itu individualistis. Bung Hatta, yg
juga menolak invidualisme, berpendapat lain. #BK

Bung Hatta mengusulkan dicantumkannya hak-hak warga negara dlm konstitusi. Ia melihat bahayanya kekuasaan negara utk menindas. #BK

Bung Hatta pernah tinggal di Eropa, pernah diperlakukan sbg manusia yg punya hak dasar ketika ia dadili diperadilan Bld. #BK

Bung Hatta juga melihat bahaya Negara otoriter dan totaliter spt Jeman di bawah Hitler, yg menuntut wrganya punya “disiplin mati”.#BK

Di rapat para pendiri Republik bulan Juli 1945 itu, Bung Hatta dituduh curiga kpd Negara. Dia berseberangan dgn Bung Karno.#BK

Sekitar 50 tahun kemudian, ternyata Bung Hatta yg tak pandai bicara itulah yg benar: hak asasi perlu, dan Negara bisa menindas.#BK

Tapi Juli 1945, sebelum ada Negara Indonesia, siapa yg menyangka negara itu bisa menindas orang Indonesia sendiri?#BK

Di tahun 1958, Bung Karno membubarkan Parlemen pilihan rakyat. Bersama militer, ia mengumumkan bedirinya “Demokrasi Terpimpin”. #BK

Kata2 Bung Hatta yg menarik dlm buku “Demokrasi Kita” yg dilarang beredar itu menyebut bhw “persatuan” seharusnya bukan “per-sate-an”. #BK

Dlm “per-sate-an”, masing2 unsur ditusuk, dikaitkan dgn kkekerasan dan paksaan, dan tak penting corak masing2 unsur itu. Kayak sate. #BK

Dilihat kini, “Demokrasi Terpimpin” yg diterapkan Bung Karno 1958-1965 adalah ikhtiar yg bermaksud dahsyat, tapi berakhir tragis. #BK

Tengah malam. “Kul-twit” ini saya akhiri di sini. Insya Allah saya teruskan besok ttg bagaimana menilai ‘Demojrasi Terpimpin”. #BK


See? So much we can get with these 140 characters if we can use it properly :) Terima kasih Pak Goenawan Muhammad atas ‘kuliah’nya yang berlangsung sampai tengah malam ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s